Sabtu, 20 Februari 2010

Kuliah 6: Peran Militer Pada Era Soeharto

Salam,
Untuk meninjau peran militer secara utuh maka memang kita perlu memahami sepak terjangnya semenjak masa pemerintahan Soekarno. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya bahwa militer pada masa demokrasi terpimpin merupakan kekuatan yang dijadikan pilar dalam pemerintahan Soekarno selain PKI. Keruntuhan Orla pun tak lepas dari dominasi kekuatan militer khususya angkatan darat. Memasuki Orde Baru dominasi ini semakin tidak terbendung. Dwifungsi ABRI memungkinkan mereka yang berasal dari kalangan militer dapat mengambil peran-peran strategis dalam kancah politik termasuk menduduki jabatan-jabatan penting yang bersentuhan secara langsung dengan pengambilan keputusan.
Namun dalam perjalanannya terindikasi muncul kubu-kubu dalam tubuh militer yang memperlihatkan kompetisi yang terjadi diantara para perwira tinggi. Dalam bukunya Hendro Subroto dinyatakan bahwa Sintong mengidentifikasi desas-desus adanya tiga kubu dalam tubuh militer saat itu yaitu: Orang-orang yang dekat dengan Soeharto kemudian orang-orang yang biasa saja dan yang terakhir adalah orang-orangnya L.B. Moerdani.
Tentunya kajian militer semakin berguna bagi kita yang mendalami studi mengenai kondisi Politik Indonesia. Oleh karenanya selamat mengikuti perkuliahan minggu ini.
Terima Kasih

Sumber Bacaan: Militer dan Politik di Indonesia (Harold Crouch)

118 komentar:

  1. Erlangga Yudha Muharam (2009330110)

    Hmm.. ada yang ingin saya tanyakan, apakah desas desus akan adanya "tiga kubu" dalam tubuh militer saat itu sampai sekarang masih merupakan desas desus? apa sudah terungkap atas kebenaran atau ketidak benarannya?
    terima kasih

    BalasHapus
  2. abraham kristi pambudi (2009330068)

    kalau menurut saya, kekuasaan soeharto bkn hanya berlaku dulu saja.. sampai sekarang keluarga2 nya juga memiliki kekuasaan lebih di indonesia. seperti contoh tommy soeharto yg hukuman penjara nya tidak sesuai dengan pelanggaran nya. seperti ada money politik gtu. selain itu knp harta keluarga soeharto tidak disita, padahal harta2 itu tidak di dapat dengan cara yg benar. lebih banyak merugikan negara.

    BalasHapus
  3. luqman pradityo
    2009330174

    saya ingin berpendapat bahwa, sebetulnya pada masa pimpinan soeharto terjadi suatu perubahan yang sangat drastis, khususnya di bidang perekonomian indonesia. contohnya adalah inflasi dapat diturunkan dalam waktu singkat hingga ke 1 digit, pertumbuhan ekonomi yang tinggi yang membuat pendapatan perkapita meningkat hingga di atas 1000 dolar AS pada awal tahun 1997, jumlah penduduk miskin menurun drastis. terima kasih.

    BalasHapus
  4. Raisha Fitri Yolanda
    2009320167

    menurut saya, singkat saja,
    untuk memaksimalkan militer di negara ini, yaitu dengan me-non dwifungsikan militer, tetapi itu sulit apalagi di negara kita yang memang bisa di bilang budaya dwifungsi militer, tidak salah juga memang, tapi akan lebih baik kalau militer di fokuskan kepada menjaga NKRI di banding ikut andil dalam kancah politik di indonesia. Saya setuju dengan dominasi angkatan darat, tapi yang membuat saya bingung kenapa militer kita hanya memperkuat di sektor darat? sedangkan negara kita negara kepulauan yang harus nya lebih di tingkatkan di sektor angkatan laut. Terima Kasih.

    BalasHapus
  5. Gilang Kharisma (2009330194 Kelas I)

    menurut saya Dwifungsi ABRI sejak zaman Soeharto membuat ABRI merasa dianak emaskan. Bahkan setelah orde baru runtuh pun tidak sedikit anggota atau mantan anggota ABRI yang berkecimpung di dunia politik. Bahkan presiden kita pun merupapakan salah satu hasil "kaderisasi" dari angkatan darat.
    Dan salah satu dampak dari dwifungsi ABRI menurut sy adalah, masyarakat masih memandang bahwa mantan ABRI / TNI masih lebih layak untuk menduduki kursi presiden dibandingkan dengan golongan birokrat.
    Dan saat pemilu 2009 pun ada 3 purnawirawan TNI yang ikut berkompetisi untuk merebut kursi presiden atau wapres (SBY, WIRANTO, PRABOWO)

    BalasHapus
  6. Selamat malam Mas, Saya Kristi Birowo (2009330027).
    Saya ingin mengomentari khususnya masalah 3 kubu di militer. Saya juga sempat membaca Sintong Panjaitan Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando. Kelompok yang dekat dengan Soeharto memang akan selalu mendapat prioritas privillage selama dia setia begitu pula dengan kelompok yang biasa-biasa saja. Kelompok Benny Moerdani lah yang kerap mendapat jalan terjal. Padahal dia banyak berjasa terhadap kemajuan militer nasional secara langsung maupun tidak langsung. Dialah yang mengizinkan adanya Detasemen 81/Antiteror. Detasemen ini tidak main-main sebab dasar pembuatannya saja setidaknya melihat Grenzschutzsgruppe 9 (GSG 9-Jerman), Spesial Air Services (SAS-Inggris) serta Special Boat Squadron (SBS-Inggris), GIGN (Prancis), US Army's Special Forces dan Marinir Kerajaan Belanda.
    Namun Benny yang semula adalah kepercayaan Soeharto kehilangan kepercayaan akibat desas-desus akan adanya coup.Desas-desus semakin kencang seiring dengan pembicaraan Prabowo Subianto dan Luhut Pandjaitan yang kemudian diutarakan pada M.Jusuf. Akibat itu debennysasi dimulai. Ia dan orang-orang dekatnya tersingkirkan dari kancah kenegaraan.

    Peristiwa ini membuat saya sadar bahwa di Orde Baru dunia politik memang sangat dekat dengan dunia militer. Peristiwa demikian mengingatkan saya kembali dengan sistem feodal bakufu Jepang. Di mana kasta Samurai ( pejuang militer tinggi ) memang memegang tampuk keshogunan.
    Bila ada sesuatu yang salah mohon maaf dan pelurusannya. Terima Kasih banyak.

    BalasHapus
  7. Dhritya (2009310006)

    saya ingin berkomentar mengenai perkuliahan politik era jabatan soeharto.
    menurut saya pemerintahan orde baru cenderung sangat otoriter, terbukti dari keputusan-keputusan soeharto lewat kebijakan-kebijakannya. kekuasaannya pun diperbesar dengan jaringan institusinya yang semakin luas karena mendapat dukungan dari berbagai kalangan.
    bagi saya, gaya kepemimpinan soeharto yang otoriter, secara hukum mungkin akan menguntungkan negara karena semakin kuat ditambah dengan tidak bisa adanya protes terhadap segala keputusan soeharto. namun kekuasaannya yang tanpa batas seperti ini mengakibatkan bumerang bagi soeharto sendiri karena perekonomian indonesia jatuh pada akhir tahun 90an karena pengeluaran anggaran pemerintah yang tidak dibatasi.
    jadi menurut saya, kurangnya praktek demokrasi yang lebih transparan dalam adalah salah satu penyebab lengsernya kekuasaan soeharto.

    dari materi perkuliahan tersebut, saya ingin menanyakan, mengapa golkar yang pada saat itu mengklaim bahwa mereka bukan partai tapi tetap bisa mengikuti pemilu? mengapa tidak ada aturan yang jelas yang melarang bahwa organisasi bukan partai tidak boleh ikut pemilu?
    apa karena ketua golkar pada saat itu adalah soeharto, oleh karena itu dengan kekuasaannya golkar yang bukan partai tetap dapat mengikuti pemilu?

    BalasHapus
  8. halo mas =)
    saya Sandra Triastuti Effendy - 2009330015

    ternyata peran militer di masa orde baru memang sangat mendominasi.. ini terlihat dari militer khususnya Angkatan Darat yang memiliki peran dwifungsi ABRI dalam bidang pertahananan dan keamanan menjadi ikut berperan dalam sosial dan politik.
    mereka memiliki peran ganda sebagai TENTARA PEJUANG dan PEJUANG TENTARA.

    peran ganda itu menjadikan militer di zaman Soeharto besar kepala dengan mengambil alih semua keputusan pada saat itu dan mengakibatkan terjadinya berbagai friksi internal di kalangan militer itu sendiri.

    militer yang ikut terjun dalam lembaga pemerintahan itu pun mampu merumuskan dan menformulasi kebijakan, sehingga mereka berhasil menguasai segala sumber daya.
    oleh karena itu, peran militer pada era soeharto menjadi begitu kuat.

    mungkin ini baru sebagian kecil dari materi perkuliahan minggu ini yg saya mampu sampaikan.. sekian dan terima kasih~

    BalasHapus
  9. Syanne (2009330115)

    Saya ingin bertanya Mas, apakah dalam era pemerintahan Soeharto ini, hanya AD saja yang memiliki kekuatan dan mengambil peran2 strategis di Indonesia?Atau AU, AL juga memilki peran yang penting juga pada era pemerintahan Soeharto tetapi tidak diekspos karena yang lebih berkuasa adalah AD yang dalam hal ini adalah ABRI?

    terima kasih

    BalasHapus
  10. saya tanty novrita 2009330051,
    setelah membaca dan menyabungkan ingatan saya dengan perkuliahan sebelumnya, menurut saya soeharno berhasil memainkan perannya sebagai presiden sekaligus penguasa militer indonesia karena dia memegang jabatan sebagai panglima angkatan darat (kalau tidak salah ^^)..

    oia mas manurut yang saya dengarm soeharto tidak terlalu memperhatingkan AU dan AL dibandingkan dengan AD. alasan dibalik itu apaya? dan kalau boleh tau mengapa dengan menguasai AD saja soeharto bisa begitu berkuasa (tidak tergoyahkan) padahal AL dan AU kan juga sama-sama angkatan bersenjata?

    terima kasih ^^

    BalasHapus
  11. andre kurniawan (2009330169)

    saya ingin tanya mas,dengan konsep dwifungsi ABRI yang dijalankan oleh soeharto pada masanya adakah dampak positif yang dapat dirasakan oleh indonesia..?
    kalau ada contohnya apa ?
    dan apakah konsep dwifungsi ABRI itu efektif dalam pemerintahan ?

    Terima kasih..

    BalasHapus
  12. jimmy A
    2009320105

    kenapa ya nampaknya bagaimanapun status penegak hukum di Indonesia terutama abri dan polri nampaknya tidak pernah ada yang baik di mata masyarakat.

    seperti sekarang. polisi selalu dikaitkan dengan polisi korup dan tidak ada yang bersih. karena perilaku para penegak hukum yang tidak bisa konsisten dengan hukum jadi masyarakat beranggapan bahwa hukum bisa dibeli..

    BalasHapus
  13. mas saya riska (2006 330 173)

    Terkait dengan munculnya kubu2 dalam militer sendiri, Mas bisa tolong jelaskan kenapa pada akhirnya soeharto menilai TNI terutama yg brasal dr angkatan 45 sebagai kelompok yang bisa mengancam posisinya??

    BalasHapus
  14. inggrid putri omega (2009330144)

    menurut saya,kekuatan pada masa orde baru sangatlah berpengaruh pada sistem politik Indonesia. Berdasarkan latar belakang Soeharto yang memang dari Angkatan Udara sehingga sempat terjadinya hegemoni. Banyaknya serangan fisik dan mental yang dilakukan kepada rakyat ataupun aktivis yang tidak sependapat dengan pimpinan saat itu. Militer sangat berpengaruh kepada cacatnya ideologi Indonesia saat itu yaitu demokrasi pancasila.

    BalasHapus
  15. christopher kevin 2009330042

    saya ingin bertanya tentang hubungan pak harto dengan L.B. Moerdini. alm moerdini merupakan seorang tokoh yang cukup berpengaruh dalam militer Indonesia. membentuk BIN. langkahnya pun bsia di bilank cukup spektakuler dalam pemerintahan orde lama, beliau berani untuk memperingatkan pak harto untuk mengontrol tingkah laku anak - anaknya. tapi dalam hal itu justru membutanyya menjadi di benci. yang saya binggung mengapa beliau Moerdini dijadikan sutau kubu sendiri? pada masa sebelum 1988 tampanya hubungan moerdini dan pak Harto belum terlalu parah, bahkan cukup di bilank sebagai orang kepercayaan. mengapa moerdini tidak termasuk sebagai golongan rang yang dekat dengan pak harto? dan yang di definisikan sebagai golongan moerdini itu yang seperti apa? yang berani melawan? atau berani mengungkapkan pendapatnya secara terang - terangan?

    BalasHapus
  16. selamat malam pak..
    saya Gennady (2009320063).
    kan militer dlm lembaga parlemen telah merumuskan dan menformulasi kebijakan .,
    yang saya ingin tanyakan memangnya kebijakan-kebijakan yang seperti apa yang telah dirumuskan dan yang telah diformulasikan oleh para militer dalam lembaga parlemen?saya kurang paham.

    Terimakasih.

    BalasHapus
  17. ryan (2009320018)

    menurut saya kekuasaan soeharto sampai saat ini belum berakhir, anak2nya saja masih sering buat kontroversi. sebaiknya deportasi saja semua keluarga besar soeharto, semua yayasan dan perusahaan pribadi dari keluarga soeharto diserahkan ke negara.

    BalasHapus
  18. chakra Pratama 2009330043

    kalo menurut mas kristian, seandainya anak2nya suharto tidak terlalu tamak dengan harta bapaknya, apakah pemerintahan masa suharto dapat membawa Indonesia menjadi macam asia tenggara??

    BalasHapus
  19. saya michelle (2009330163)
    saya ingin berkomentar,
    karena adanya fakta bahwa dulu TNI punya peran ganda, saat ini masih banyak orang berpikir konservatif bahwa orang militer yang masuk ke dunia politik dan sosial adalah sesuatu yg tidak baik sama sekali(mereka berpikir orang militer selalu otoriter, seperti Soeharto). padahal, mnurut saya, saat ini disamping yg konservatif, sudah byk org yg berpikir bahwa org militer tidak selalu tidak baik (terbukti dari SBY yg terpilih dua kali, dan wiranto juga prabowo yg masih bisa punya pemilih saat pemilu walau tidak menang).
    tetapi, jika melihat keadaan dunia sekarang, memang lebih baik jika militer punya tujuan yg lebih spesifik, bukan lagi mencampuri bidang lain.
    sekian, terimakasih.

    BalasHapus
  20. Jennie Suhitono (2009320030)

    sy mengakui eksistensi militer pd jaman orba yg sangat mendominasi pemerintahan saat itu.pasca orba,tentunya militer mengalami "kemerosotan" dlm artian tdk bs mendominasi kekuasaan lg seperti dl.bgmn dgn perubahan struktur militer dan runtuhnya pemerintahan berbau militer pasca orba?serta bgmn peran esensial militer skrg yg msh sangat lengket dgn pemerintahan orba?
    tQ~

    BalasHapus
  21. Pagi mas,saya dicky andreas ( 2009320053 )

    Saya beranggapan bahwa masa kekuasaan soeharto masih ada sampai skg,tbukti dengan anak2'a yang sampai skg masih sering membuat tindakan yang kontroversial ...

    BalasHapus
  22. noverdyo (2009330207)

    saya masih blum aam tentang sepak terjang lb moerdani,, bisa mas jelasin tentang lb moerdani ?
    Selebihnya, peran miiter itu memang sanga krusial. Saya tidak keberatan jika militer tersebut memiliki sifat nasionalis yang kuat. Tetapi, speanjang era orba, militer justru ikut menyalahgunakan posisinya. Berbeda dengan militer negara komunis dan sosialis yang patuh dan nasionalismenya yang kuat, ABRI di sini memiliki banyak keistimewaan dari soeharto. Keistimewaan ini membuat sikap para militer berubah menjadi seperti birokrat sipil, walaupun pada banyak kasus memang berkemungkinan besar di tubuh militer banyak terjadi persaingan.
    Plato mengatakan bahwa bentuk pemerintahan yang baik adalah aristokrasi, kemudian militer. Plato melihat, jika suatu negara diperintah oleh militer, negara akan menjadi kuat. Pada kenyataannya, era orba menjadi puncak kegemilangan indonesia, terutama pada sektor ekonomi. Terlihat bahwa militer menjadi sangat kuat posisinya dan bahkan menjadi kaum elit. Hanya saja, lagi-lagi sifat primordialisme di dalam tubuh militer membuat kekuatan miiter menjdi salah guna.Sungguh sangat disayangkan

    BalasHapus
  23. Malam Mas, saya Yuanita (2009330046).

    Saya berpendapat bahwa polri jaman sekarang kurang cekatan dalm menindak beberapa kasus kriminal. Hanya beberapa polsek di beberapa daerah yang lumayan cekatan dalam menindak kasusu2nya. Apakah perlu polri mendapat pendidikan seketat TNI?? Tapi bagus bahwa jaman sekarang sudah tidak ada lagi Dwifungsi ABRI karena apabila masih ada, pemerintahan akan dijalankan seara diktator militer.

    BalasHapus
  24. Andika arfianda (2009330189)

    menurut saya, kekuatan militer, khususnya angkatan darat pada jaman orba terlalu dianggap sebagai suatu kekuatan superior yang bisa disetarakan dengan presiden itu sendiri. dengan dwifungsi ABRI yang bisa mengintervensi poiltik kenegaraan, membuat keadaan politik di indonesia pada masa alm.soeharto semakin tidak terkontrol, terlebih ABRI/TNI pada masa itu memang di kuasai sepenuhnya oleh presiden. terbukti dengan 32 tahun kekuasaan alm.soeharto pada masa itu, sangat kontras dengan campur tangan militer, dimana lawan - lawan politiknya seakan tidak bisa menyaingi soeharto, karena takut militer akan bertindak. tapi mungkin bagi sebagian masyarakat pada waktu itu juga mendukung soeharto dan ABRI/TNI, karena memang pada masa itu negara dipandang sangat aman, jadi sebenarnya kekuatan militer didalam politik tidak bisa di satukan karena disamping akan membuat situasi politik tidak stabil, hal tersebut juga akan merusak tujuan awal terbentuknya militer, yaitu melindungi negara.

    BalasHapus
  25. Salita Romarin (2009330073)

    Politik Indonesia di era pemerintahan Soeharto memang sangat terasa peran militernya. Saya dulu ingta, bahwa orang-orang militer sangat diagung-agungkan. Kalau jadi anak seorang jenderal, Anda akan kebal hukum, dsb. Hal ini memang dirasa sangat berlebihan pada masa sekarang. Tetapi setelah perkuliahan tempo hari, saya merasa pada awalnya pihak militer ini bertujuan sangat baik, yaitu ingin membebaskan pemerintahan dari korupsi dan kepentingan pribadi semata. Pemerintahan yang diidamkan saat itu ialah pemerintahan yang menjunjung tinggi kepentingan bersama seluruh rakyat Indonesia. Namun pada pelaksanaannya terjadi berbagai ketimpangan. Menurut saya, hal ini terjadi karena di pihak militer sendiri terjadi kehilangan fokus yang cukup rumit. Seharusnya mereka hanya menangani masalah HanKam, malah harus juga ikut mengurusi pemerintahan. Kesalahan seperti ini hendaknya tidak boleh terulang lagi dan sebaiknya tatanan pemerintahan ini harus jelas fokusnya masing-masing. Namun, kita dapat mengambil satu pesan, bahwa pemerintahan itu bukan berdasar pada kepentingan individu ataupun golongan, tetapi harus mewakili kepentingan seluruh rakyat Indonesia.

    BalasHapus
  26. malam mas, saya Ratna ilmia(2009310016)

    menurut saya memang sudah seharusnya militer pada aman orde baru sangat diagung-agungkan, karena Soeharto dulunya berasal dari keluarga besar militer,khususnya Angkatan darat.Tentunya jika memang ada kubu2 dalam militer pada zaman orde baru anggapan saya mengatakan karena ada kepentingan tersendiri terutama terhadap kubu yang dekat dengan soeharto. Angkatan Darat juga sadar bahwa kedudukan dan perannya sangat dibutuhkan untuk menciptakan stabilitas nasional dan pertumbuhan ekonomi,saya pernah membaca sebuah artikel yang menunjukan:bahwa angkatan darat membuat unit–unit bisnis dalam skala besar yang tujuannya untuk mencari uang sendiri ataupun menjadi penyedia jasa bagi pihak lain dalam artian menjadi simbol yang menjaga keamanan pihak swasta.
    Dalam arti jika yang terjadi pada saat itu, peran militer kita terutama angkatan darat, bukannya melindungi keamanan rakyatnya, malahan sibuk mencari proyek sendiri.
    terimakasih..

    BalasHapus
  27. sore mas, saya fitriya kartini (2009310044)
    begini mas saya masih penasaran dengan peristiwa pembantaian preman-preman pada era soeharto. Sebebarnya adakah peran militer dibalik kejadian tersebut?
    terimakasih.

    BalasHapus
  28. Malam mas, saya Gian Kanigara (2009330045)

    Pemerintahan era Soeharto memang sangat didominasi oleh peran militer, karena pada saat itu yang memegang pangkat tertinggi di militer adalah soeharto sebagai panglima ABRI, dan setelah itupun pemerintahan di era soeharto yang berkisar cukup lama sangat aman dan terkendali walaupun mengarah ke dalam keputusan satu orang dan kurangnya musyawarah di saat itu. Segala sesuatu yang menyimpang dengan keinginan soeharto atau yang menyinggungya pasti akan berurusan dengan pihak militer. Maka dari itu, peran militer di era soeharto bisa dibilang sangat besar dikarenakan latar belakang soeharto dan kemampuannya dalam menumpas PKI pada jaman Orde Lama, rakyat pun tidak dapat bergerak bebas karena kuatnya pengaruh militer di jaman itu, dan peristiwa revolusi pemerintahan pada tahun 1998 yang memakan banyak korban dari kalangan mahasiswa adalah puncaknya bahwa militer adalah senjata utamasoeharto. Dan militer di eranya tidak hanya mengamankan keamanan negara namun dapat mengamankannya dari kesalahan dan kritik yang ia tidak sukai. Terima kasih

    BalasHapus
  29. Uun Sutini (2009320067)
    Masalah TNI yang memiliki dwifungsi ini pernah dibahas juga dalam mata kuliah Kewarganegaraan dimana dosennya memiliki latar belakang TNI. Dan, beliau sendiri tidak setuju hal itu. Namun, apabila orang TNI sendiri pun masih ada yang tidak menyetujui adanya dwifungsi militer dan politik. Lalu, apa sebenarnya yang mendorong orang TNI yang ingin bergelut dalam politik? Apakah hanya untuk kepuasan sendiri atau memang ingin membuat negara kita lebih baik? Tapi, jika saya melihat kinerja Soeharto yang mempunyai latar belakang militer dan politik, pemerintahan kita sebenarnya mengalami banyak kemajuan, hanya saja saya menilai Soeharto terlalu tamak dalam menjalani jabatannya.

    BalasHapus
  30. Yulia Nurliana 2009320008
    Menurut saya Dwifungsi ABRI telah membawa Indonesia pada masa-masa "terjajah". Bnyak hal yang menyimpang dari fungsinya ABRI sesungguhnya.ABRI seakan-akan berkuasa dan memiliki segalanya , disegani oleh banyak pihak.Terlihat sekali perbedaanya sekarang ABRI. Dulu orang berlomba2 masuk militer namun sekarang anak-anak lebih ingin menjadi pengusaha atau kerja kantoran ketimbang harus susah-susah berlatih dan meninggalkan keluarga hanya untuk "mengorbankan nyawa" di medan perang demi membela negaranya

    BalasHapus
  31. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  32. saya Maria frances shela (2009320002)..

    ingin menambahkan juga.. arti dwifungsi ABRI itu anggota ABRI (militer)yang berfungsi sebagai tentara (mempertahankan dan mjaga keamanan rakyat)berhak untuk merangkap jabatan juga sebagai anggota politis.
    mestinya,, harus diletakan secara benar anggota ABRI itu bagian dari warga negara Indonesia: rakyat indonesia sbg individu; kalau lembaganya ya bagian dari organisasi negara yang sudah ada tugasnya sendiri-sendiri.. jadi, kalau ada anggota ABRI pingin ber dwifungsi mengapa mesti dilibatkan lembaganya?

    Hak-hak anggota ABRI harus sama dengan hak-hak rakyat juga, jadi tidak boleh merasa anggota kelas satu dan rakyat kelas dua, hak-hak kesipilan rakyat juga harusnya dihargai juga oleh ABRI.

    BalasHapus
  33. malam mas,
    saya Cynthia A (2009320137)

    ya walaupun saya tidak begitu mengalami masa pemerintahan soeharto. saya hanya ingin berkomentar..

    soeharto yg mempunyai latar belakang militer, menjadikan militer sebagai kaki tangannya untuk melancarkan dan melaksankan kebijakan-kebijakan politik. dan yang saya ketahui adalah bahkan militer dikuasai oleh Soeharto karena dia menyadari dia didukung oleh militer, dan yang hanya bisa menjatuhkan beliau dr kekuasaanya adalah militer pula. maka dia harus menguasai militer agar dia semakin kuat di kekuasaannya. apakah benar pendapat saya ini mas?

    terima kasih

    BalasHapus
  34. Gilang Sagita (2007330124)

    malam mas..
    menurut saya,peran militer pada era Soeharto memang sangat mendominasi pemerintahan..tapi dalam kenyataannya,negara ini memang lebih pantas di pimpin oleh seorang militer yang tegas,di bandingkan sipil yang kurang menghiraukan sanksi2 hukum.
    mungkin perananannya saja yang di kurangi pada saat ini, namun tetap saja militer lebih baik dalam hal memimpin di bandingkan sipil, karena mereka memang di latih untuk seperti itu, strategi yang di berikan pun lebih baik serta mereka akan sangat memikirkan pola2 hukum yang akan di kembangkan di Indonesia.


    terima kasih!

    BalasHapus
  35. Malam pa, sy Danti Nurdianti (2009320070)

    Menurut pendapat saya dwi fungsi ini memunculkan dampak positif dan negatif. Dampak positifnya secara sosial politik mampu membawa stabilitas dalam jangka waktu yg cukup lama karena posisi penting dalam pemerintahan kebanyakan dipegang oleh ABRI, sehingga jarang sekali adanya gejolak sosial politik.

    Dan dampak negatifnya, misalnya dalam bidang ekonomi. Terjadinya krismon secara besar-besaran, hal ini disebabkan karena kekayaan negara kita hanya dipakai oleh kalangan kelompok tertentu saja.

    Terima kasih.

    BalasHapus
  36. inayah (2007330044)

    Seharusnya fungsi kekuatan militer itu hanya untuk menjaga pertahanan dan keamanan suatu negara saja. Namun kenyataannya, pada zaman orde baru di indonesia, fungsi kalangan militer (yang sekarang dikenal dengan ABRI ini) memiliki fungsi lain yaitu ABRI tidak hanya bergerak dalam bidang pertahanan dan keamanan saja melainkan ABRI juga ikut berpartisipasi dalam politik. Istilah tersebut lantas yang dikenal dengan dwi fungsi ABRI. Oleh sebab itulah, fungsi militer di indonesia mengalami penyimpangan. Dengan adanya dwi fungsi ABRI inilah yang menyebabkan militer di indonesia memiliki kekuasaan sehingga militer dengan mudah untuk dapat menduduki jabatan penting di pemerintahan. Adanya pengukuhan undang-undang mengenai konsep dwi tunggal ABRI juga menyebabkan anggota ABRI dapat bergerak leluasa untuk mengontrol dan menguasai seluruh aspek pemerintahan yang ada baik yang formal maupun informal sehingga semakin terlihat tindakan penyelewengan yang dilakukan oleh ABRI terutama dari sisi birokrasi pemerintahan. Selain itu juga ABRI mulai melakukan tindakan kekerasan kepada masyarakat yang sedang melakukan protes dan demostrasi pada saat itu. Sedangkan pada saat itu juga terlihat bahwa posisi masyarakat sipil jelas kalah bersaing dengan kalangan militer. Mungkin ini disebabkan karena faktor presidennya (soeharto) yang berasal dari kalangan TNI darat. Kerugian lain dari adanya dwi fungsi ABRI ini menyebabkan dampak ketidakadilan bagi masyarakat sipil karena orang-orang dari kalangan militer cenderung lebih mudah untuk mendapatkan jabatan tinggi dipemerintahan apalagi kalau dekat dengan kalangan presiden soeharto. Namun selain itu saya memiliki pertanyaan yang berkaitan dengan “Bisnis militer”. Apakah dengan adanya dwi fungsi ABRI ini menyebabkan terjadinya “ Bisnis” di kalangan militer indonesia pada saat itu? Apakah konsep dwi fungsi ABRI ini berhubungan dengan maraknya bisnis militer pada saat itu?? Dan posisi seperti ini juga apakah merupakan salah satu penyebab munculnya KKN di indonesia?

    BalasHapus
  37. edo adhitya(2009330175)

    menurut saya hal2 yg telah dilakukan oleh pihak TNI dibawah bayang soeharto yg dulunya adalah seorang Panglima TNI merupakan tindakan2 prefentif untuk menjaga posisi soeharto yg sedang berada dipuncak saat itu. akibatnya tindakan2 TNI semakin tidak terbendung dan akirnya meninggalkan kesan yg buruk bagi TNI yg bisa jadi masih melekat pada org2 yg hidup dijaman itu hingga saat ini
    terima kasih

    BalasHapus
  38. pagi mas....
    saya I Made Diangga 2009330127...

    Dominasi militer era Soeharto memang tampak negatif. Fungsi militer yang seharusnya sebagai pertahanan negara malah dilipatgandakan ke dalam wilayah sipil melalui bentuk dwifungs ABRI. Ini menjadi sebuah pelangaran terhadap esensi militer itu sendiri. Terlebih lagi, militer digunakan untuk mempertahankan kekuasaan. Oleh sebab itu, TNI pada masa orde baru menjadi yang terburuk setelah masa kemerdekaan.
    Yang menjadi pertanyaan saya adalah apakah masih ada sisa-sisa kekuatan militer setelah Soeharto diturunkan melihat begitu besarnya pengaruh militer pada saat itu?

    sekian dari saya....terima kasih....

    BalasHapus
  39. citra kartika dewi 2009310075

    saya beranggapan bahwa pada kekuasaan soeharto sangat kuat bukan hanya di bidang militer saja, kekayaan negara pun sempat dikuras olehnya yang sampai saat ini kekayaan tersebut masih banyak jumlahnya dan bisa dinikmati oleh anak-anaknya. selain itu tugas-tugas negara yang seharusnya dikerjakan oleh pegawai sipil malah diberikan kepada AD.
    mas, saya mau nanya. pada era soeharto terjadi peristiwa "petrus" terhadap preman-preman, mengapa hal itu bisa terjadi?memang apa yang salah dengan preman-preman tersebut?

    BalasHapus
  40. Dhimas Sindu Aji ( 2009330040 )

    saya mau tanya mas kenapa pada zaman orba terjadi dwifungsi ABRI..?? apakah al ini yang menyebabkan kekuasaan soeharto dapat bertahan sekian lama..??

    dan saya juga kurang jelas mengenai tiga kubu yang ada dalam tubuh militer..??

    BalasHapus
  41. Sy Wulandari D.L.W (2009320074)

    Mas..sy mau nanya,kan dikatakan bahwa Soeharto turun akibat bantuan negara Amerika,dsbnya.Diyakini ada kerja sama Internasional yang membuat Soeharto melepaskan jabatannya.Selain faktor ekonomi yang melatar belakangi apakah ada faktor-faktor lainnya?

    Terima Kasih,mohon jawabannya..

    BalasHapus
  42. Diva Domela (2009320078)

    siang mas, saya tidak setuju dengan ada nya dwifungsi ABRI karena dengan adanya dwifungsi ini, ABRI akan merasa sangat di anak emaskan, seharusnya ABRI hanya mengurus pertahanan negara saja, bukan menguasai segala aspek yang ada. dengan adanya dwifungsi fungsi polisi pun menjadi kabur, seharusnya fungsi ABRI dan polisi harus dibagi dengan jelas.

    bagaimana ABRI yg seharusnya menjaga dan melindungi segenap rakyat indonesia, justru bisa melakukan hal2 yang hanya mementingkan keuntungan bagi anggota militer saja, seperti bisnis militer yang marak terjadi pada masa itu. seharusnya warga sipil harus menjadi perhatian utama bagi negara bukan kepentingan sekelompok orang yang berkuasa.
    Terima kasih.

    BalasHapus
  43. Satrio Rama
    ( 2009330128 )

    Menurut saya ABRI pada era orde baru sangat mendominasi hampir seluruh keputusan yang dikeluarkan presiden. Sampai sampai salah satu wakil presidenpun dijabat oleh pejabat ABRI karena dekat dengan soeharto. Pemerintahan pada masa itu sangatlah labil, indonesia disebutkan sebagai negara yang demokrasi tapi kenyataannya disini ada sebuah kelompok besar yang sangat mendominasi seluruh keputusan yang diambil dan disini wakil rakyat yang lain sebagai wakil dari beberapa suara tidak hanya ABRI tidak mendapatkan haknya untuk mengutarakan pendapatnya yang justru dapat membangun negara ini yang lebih demokratis. Seharusnya ABRI tidak layak untuk masuk ke kancah politik karena watak para anggotanya yang sangat loyal dimanfaatkan untuk memperkuat tahta soeharto saja. Indonesia adalah negara plurarisme yang jelas mempunyai banyak pendapat untuk membuat keputusan tidak hanya kolusi dari pendapat para ABRI saja. Kita negara demokrasi yang sangat membutuhkan kekuatan rakyat tidak hanya keputusan beberapa kelompok saja, dan ABRI bertugas untuk melindungi rakyat Indonesia bukan menutup semua pendapat rakyat banyak.
    terima kasih

    BalasHapus
  44. Rangga Dwichandra Yudhira
    (2009330011)

    Menurut saya, pada saat Soeharto berkuasa dan militer banyak mengambil peran lembaga-lembaga yang lain tidak banyak penyimpangan yang terjadi seperti saat ini. Itu disebabkan karena ABRI bersikap otoriter dan berdisiplin tinggi.
    Terima kasih.

    BalasHapus
  45. Avezia Gabby (2009330044)

    Mas, sepertinya sudah banyak yang berkomentar di atas, jadi pertanyaan saya hanya, apakah ada sumber bacaan lain yang bisa digunakan selain yang mas kristian sebutkan diatas? Mengingat banyaknya kesimpangsiuran dalam politik era Soeharto hingga kejatuhannya serta peran militer dalam era Soeharto tersebut.

    BalasHapus
  46. Dimas Bayu Permana (2009330165)

    mas, menurut saya peran ABRI dalam masa orde baru sangat besar. dalam artian, fungsi sebenarnya ABRI yang hanya menjaga keamanan dan ketertiban negara namun bertambah tugasnya dengan memegang kekuasaan dan mengatur negara. ini dibuktikan dengan seminar AD yang diadakan pada april 1965 dan pada bulan agustus 1966.
    pertanyaan saya adalah, apakah dibalik 'berkuasa'nya kaum militer pada masa orde baru merupakan salah satu cara dari pemimpin pada masa itu yaitu soeharto untuk mempertahankan kekuasaan? kalau iya, mengapa pada masa akhir kekuasaan soeharto, militer justru menarik dukungannya terhadap soeharto?

    BalasHapus
  47. Nama : Nicole Andrea
    NPM : 2009330119

    dengan berjalannya dwifungsi ABRI mungkin memang membuat segala sesuatu sangat tertata, terstruktur, dan disiplin. Namun sebuah kedisiplinan yang berlebihan akan menciptakan kekakuan. masyarakat indonesia sangat terkekang. hidupnya penuh ketakutan akan pemimpin. tercipta kesenjangan yang sangat lebar antara pemimpin (militer) dengan masyarakat sipil. hal itu membuat negara ini berjalan hanya sesuai dengan keinginan para pemimpin, dalam kasus ini pemimpinnya adalah militer dan Soeharto. masyarakat menjadi terbungkam dan hanya bisa menurut saja. sedangkan menurut saya, esensi dari suatu bangsa adalah persatuannya dalam usaha mencapai satu tujuan yang sama. karena itu saya menolak dengan tegas diberlakukannya sistem dwifungsi ABRI.

    BalasHapus
  48. ahmad surya fahruri (2009330214)

    mas, saya mau nanya.
    kemarin waktu di kelas mas bilang, pada masa soeharto kepercayaan masyarakat pada militer itu tinggi. apa kepercayaan itu murni dari dalam diri mereka sendiri, atau lebih ke rasa takut pada militer? soalnya yang saya tau di era soeharto banyak penindasan terhadap rakyat.
    terima kasih mas.

    BalasHapus
  49. pagi mas, saya Helga Chandra Saputra (2009330021)..
    saya berpendapat, dari bahan yang kemaren kalau saya ambil keputusan, mungkin wajar soeharto sangat menguatkan angkatan darat, karna setau saya dia orang AD, unutk lebih menguatkan posisi dia di pemerintahan , mungkin tujuan nya itu. jadi soeharto hanya ingin mempertahankan kekuasaan dia sampai akhirnya militer sendiri yang menarik dukungan nya.

    makasiii ^^

    BalasHapus
  50. saya Juditya Siswanto 2009320021

    Menurut pendapat saya, saya menolak dengan tegas adanya dwifungsi ABRI. Pelaksanaan tindakan dwifungsi Abri itu memang baik bagi negara kita, tetapi jika tidak ada dwifungsi abri akan lebih baik. Karena, dengan adanya keadaan dwifungsi ABRI pertahanan dan keamanan dengan masyarakat sipil akan semakin buruk. Akan terjadi kesenjangan-kesenjangan yang dapat merusak pribadi negara ini.

    BalasHapus
  51. selamat siang^^
    saya etania sabrina-2009320023

    menanggapi kuis yg kmarin tgl 1 maret..
    saya menolak adanya dwifungsi ABRI karena menurut saya hal ini akan berdampak sistemik pada kekacauan politik n sosial indonesia..
    bahwa AD adalah angkatan bersenjata yang seharusnya hanya merupakan kekuatan militer saja tidak perlu ikut2 dlm urusan poltik,apalagi hingga mampu mendikte kaum elite politik lainnya, para ABRI seperti kata mas, mendapat pelatiham khusus bukan hanya bersenjata saja melainkan pendidikan politik, sehingga hal inilah yang menyebabkan mereka merasa lebih 'pintar' dlm berpolitik dan mengurus tatanan negara dibandingkan kaum elite poltik yang belum tentu mempunyai pendidikan tersebut...
    terimakasih^^

    BalasHapus
  52. selamat siang^^
    saya etania sabrina 200932023

    menurut saya,bagaimana bisa demokrasi pada saat suharto memimpin itu bisa dikatakan demokrasi,karena pada era pemerintahannya(orba)
    terdapat pembatasan2 terhadap media massa, dan setiap orang bahkan nyaris tak memiliki hak suaranya jika ingin mengkritik presiden.. setau saya pada era orba semua orang dilarang keras untuk mengkritik presiden dan pemerintahannya...
    lalu dimana letak drpada demokrasi pancasila tersebut?
    terimakasih^^

    BalasHapus
  53. jon ricardo (2009320022)
    di dalam pertemuan terakhir kemarin saya ingin menyampaikan komentar..
    menurut saya dwifungsi ABRI tersebut kuranglah efektif bagi negara indonesia..
    karena ABRI tersebut akan tidak efisien melakukan tugasnya..
    thx..

    BalasHapus
  54. Vika SW (2009330179)

    Apa sebenarnya tujuan dari Jendral A.H Nasution mengusulkan Dwifungsi ABRI pada saat itu ?
    Kerena menurut saya menjaga stabilitas keamanan negara saja sudah merupakan tugas yang berat bagi militer. Apakah militer sangat haus kekuasaan sampai ingin mendapat jabatan di pemerintahan ?
    Terimakasih.

    BalasHapus
  55. wendita hayuningrisa (2009330180)

    dalam pertemuan senin kemarin waktu membahas tentang segitiga emas (kekuatan Seokarno) yang terdiri dari AD dan PKI, mengapa PKI menjadi partai yang terlarang dan siapa yang menuduhnya? apakah Soeharto?
    terimakasih.

    BalasHapus
  56. Denisa Meiviany (2009320091)

    Menurut saya tentang Dwifungsi ABRI di masa Soeharto kurang setuju karena di sini seharusnya ABRI mengurus segala pertahanan Negara saja, bukan menguasai aspek yang ada. Contohnya fungsi Polisi pun jadi seperti kurang berguna jadi seharusnya tahu fungsi ABRI atau pun Polisi.
    Soeharto juga mungkin menjadikan militer sebagai kaki-tangannya atau bisa di bilang kesempatan untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan politiknya . Dampak negative untuk Dwifungsi ABRI di masa Soeharto dalam bidang ekonomi karena terjadinya krisis monoter (krismon) secara besar-besaran dan ini di sebabkan karena kekayan Negara di gunakan untuk kalangan tertentu saja.
    Terimakasih

    BalasHapus
  57. malam mas kris.
    saya mochamad riva imani (2009320141)

    ingin menanyakan apakah dwifungsi ABRI sampai sekarang masih ada?
    atau kedudukan angkatan militer lebih diatas dari orang sipil masih ada sampai sekarang?
    dan yang saya ingin tanyakan negara kita itu sekarang menggunakan sistem demokrasi apa yah?

    terimakasih.

    BalasHapus
  58. hallo pak saya
    osy mirani(2009320044)
    saya ingin berkomentar sedikit
    memang sangat tersa militer pada saat itu militerisme sangat lah berperan saya amat tidak setuju deng legitimasi militer dan kekelasan pada masyarakat pada masa tersebut untuk mempertahankan kekuasaan militer tersebut
    mungkin dwifungsi yang positif yaitu dengan tentara memberikan kegiatan sosial pada msy demi membangun bangsa saja saya baru setuju
    makasih

    BalasHapus
  59. Nindya Raharjani 2009310043

    saya tidak setuju dengan adanya dwifungsi ABRI dalam sistem politik di indonesia yang sangat mendominasi, karena hal tersebut peran sipil kurang dianggap. fungsi ABRI itu sendiri adalah menjaga keamanan dan pertahanan negara Indonesia. jika terjadi penyimpangan dalam peran dan tanggung jawab, tentu saja akan berdampak buruk khususnya pada masyarakat kecil di Indonesia.
    memang sulit untuk menghapus dwifungsi ABRI dalam sistem politik kita, namun alangkah lebih baik jika hal tersebut tidak mendominasi secara keseluruhan. saya pun tidak mengelak bahwa peran militer pun sebenarnya memang dibutuhkan dalam hal berpolitik, namun bukan berarti itu dapat disalah artikan untuk menguasai semuanya.
    terimakasih

    BalasHapus
  60. Faris SP 2009320186 E

    Saya berpendapat bahwa kekuasaan militer dan politik masih ada! dwi fungsi ABRI pun masih eksis hingga saat ini! memang pada dasarnya politik=kekuasaan namun perlu di garis bawahi juga bahwa politik=kepentingan bersama. Militer dapat dengan mudah mendapatkan kekuasaan dan sangat sulit melepaskanya. dwi fungsi abri masih berjalan dan kekuasaan soeharto terus ditirunkan.

    pendidikan militer sangat TIDAK COCOK bagi pemimpin bangsa Demokratis, mungkin sosialis iya. hasil kepemimpinan militer pun tidak memuaskan. Trus kenapa rakyat masih memilih anggota militer? apa karena mereka ingin kembali ke masa soeharto? memang secara keseluruhan dan banyak nilai positif yang timbul pada masa orba, tidak dapat dipungkiri soeharto tetap bapak pembangunan kita ^_^.

    BalasHapus
  61. siang mas.. saya emilia (2009330076) dr kelas H..

    saya mau bertanya tentang dwifungsiABRI yang dicetuskan oleh AH Nasution..
    apakah maksud atau tujuan beliau mengambil jalan tengah dengan mencetuskan dwifungsi ABRI ini?
    apakah karena beliau memang ingin bermaksud untuk melebarkan sayap AD khususnya dlm bidang poltik, tp mengatakan bhwa kekuasaan mereka tidak dominan?
    lalu bagaimana dgn peran Soeharto dlm hal ini? apakah beliau juga turut andil?

    BalasHapus
  62. Alvin Rahmawan (2009330039) Kelas E

    Saya punya pendapat walaupun pada masa berkuasanya Soeharto ia termasuk seorang yang otoriter, tetapi di sisi lain ia juga berhasil menekan angka inflasi dan meningkatkan pembangunan. Mengapa cara Soeharto dalam menekan inflasi dan meningkatkan pembangunan tidak diterapkan lagi pada masa kini? Apakah cara tersebut akan membawa dampak tertentu sehingga tidak diterapkan lagi?

    BalasHapus
  63. sore mas.. nama saya eunike gloria (2009330007)..
    Menurut saya pribadi, dwifungsi ABRI muncul karena melihat dari pengalaman. Pada masa orde lama, tentara merupakan aspek yang sangat penting dalam menjaga stabilitas nasional. Pemeberontakan2 berhasil di padamkan dan peran tentara menjadi sangat kuat dalam menjaga stabilitas keamanan negara pada saat itu. Dari keberhasilan militer itulah, pemerintah pusat mulai melihat potensi para tentara dan berusaha mendudukannya dalam posisi2 strategis pemerintahan, dengan maksud agar pengaturan negara dapat menjadi lebih baik. Apalagi setelah munculnya konsep "jalan tengah" yang disampaikan oleh A.H. Nasution, peran militer/tentara dalam pemerintahan menjadi lebih kuat. Namun kenyataan tidak sepenuhnya sesuai dengan apa yang diharapkan oleh rakyat sipil. Pada masa-masa kejayaan dwifungsi ABRI, banyak tindakan yang melanggar HAM dan penyelesaian masalah dengan menggunakan kekerasan. Meskipun memang ada kontribusi ABRI yang baik bagi politik Indonesia, terjadinya kesenjangan antara ABRI, yang seharusnya mengabdi pada rakyat, dengan rakyat itu sendiri membuat dwifungsi ABRI menjadi tidak ideal lagi sifatnya.

    BalasHapus
  64. malam mas,

    saya dion aviantoro (2009310051)
    saya mau bertanya, pada saat masa orde baru itu sempat ada penggabungan antara polisi dan juga abri yang memberikan efek ketidakjelasnya peran sipil yang dipersenjatai dan menjaga kemanan. Apa yang melatarbelakangi penggabungan polisi dan abri tersebut?
    terima kasih mas

    BalasHapus
  65. malam mas,
    saya devi natasia 2009330023

    saya ingin bertanya mengenai 3 kubu yang ada dalam ABRI karena saya tidak mengerti tengtang hal tersebut...

    lalu saya ingin menanggapi tentang adanya dwi fungsi ABRI. saya tidak setuju dengan adanya dwi fungsi ABRI. menurut saya adanya dwi fungsi ABRI membuat peran ABRI menjadi tidak maksimal karena ia bisa mengambil peran-peran laein yang bukan porsinya. seharusnya bila peran ABRI hanya dalam pertahanan keamanan, ya hanya itu saja yang harus mereka urus. untuk urusan ekonomi dan politik mereka seharusnya tidak perlu ikut campur didalamnya. biarlah setiap orang menjalankan perannya masing-masing, karena dengan begitu maka semua peran dapat dijalani dengan hasil yang optimal.

    saya ingin bertanya mas, kenapa pada waktu itu soeharto memberikan kursi kepemimpinan perusahaan yang dinasionalisasi itu kepada pejabat tinggi militer ? kenapa tidak kepada orang-orang yang memang ahli didalam perekonomian atau bisnis ?
    apa alasannya hanya karena tidak adanya anggaran untuk militer sehingga para militer tersebut diberikan lahan bisnis untuk pemenuhan kebutuhannya tersendiri ?

    makasih mas..

    BalasHapus
  66. Martua Andreas Simanjuntak
    2009320162

    menurut saya,dwi fungsi ABRI pada masa orba harusnya sebagai pelajaran bagi kita bahwa kekuasaan yang bersifat dwifungsi dapat menyebabkan kekacauan.Sebab sebuah lembaga tidak akan bisa berjalan dengan maksimal pada saat dwifungsi ABRI dilakukan.Selain itu dampak yang bisa tercipta adalah kekuasaan otoriter yang lebih banyak memikirkan kepentingan pribadi daripada rakyat..
    oleh karena itu,saya sangat setuju dengan dihapusnya dwifungsi ABRI dan hanya memiliki satu kekuasaan yaitu keamanan negara pada saat pemerintahan Habibie.

    BalasHapus
  67. Andri Gunawan
    2006330140

    Dwifungsi ABRI(serta Golkar)sebagai pilar utama pada rezim Orde Baru dibawah kepemimpinan Soeharto memang dinilai sebagai kekuatan politik Indonesia yang luar biasa.Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya kekuasaan mutlak presiden selama 32 tahun masa jabatan

    BalasHapus
  68. pagi..
    angga wibowo
    2009310002

    mas kenapa sebelumnya anggota TNI dijadkan alat politik?
    karena kan anggota tni hanya sebagai pelindung negara..
    apa ada maksud lain dari hal itu?

    BalasHapus
  69. saya anisyah nurrizka I (2009330187)

    mas seperti yang telah mas jelaskan bahwa pada tahun 1965 terjadi sejumlah mutasi dan pemberhentian sejumlah orang di angkatan darat yang dianggap pro Soekarno dan PKI dan semenjak itu kekuatan angkatan darat semakin solid.
    dan waktu itu mas katakan bahwa PKI dikriminalisasi, sebenarnya siapa yang mengkriminalisasi PKI? dan apa contoh kriminalisasinya mas?

    terima kasih..

    BalasHapus
  70. Mas, saya Marya Sutimi (2007330105).
    Saya hanya ingin mengomentari mengenai dwifungsi ABRI itu sendiri.
    Menurut saya, dwifungsi ABRI pada masa Soeharto itu tidak relevan karna dengan adanya dwifungsi ABRI itu sendiri, peranan ABRI di Indonesia menjadi sangat mendominasi dan hal ini mengakibatkan kebijakan politik Indonesia yang dibuat pada masa itu menjadi lebih condong pada kebijakan yang menguntungkan pihak ABRI.

    BalasHapus
  71. mas, saya mengirimkan komentar ke email anda, mohon dicek. terima kasih. aldi firmansyah rubini (2009330074)

    BalasHapus
  72. sartika nur rachmawati (2009330026)

    saya tidak setuju dengan adanya dwifungsi ABRI. karena menurut saya, dwifungsi ABRI membuat kesempatan yang dimiliki oleh putra-putri bangsa yg lain untuk berpartisipasi aktif dalam bidang politik menjadi berkurang.
    terimakasih.

    BalasHapus
  73. soraya ammilia 2009320151

    yang saya bingungkan apa tujuan dari Soeharto yang ingin memperluas dan membentuk dwifungsi ABRI?

    menurut saya dengan adanya dwifungsi ABRI peran para militer menjadi sangat mendominasi. Terlebih lagi peran dalam dunia politik di Indonesia. Padahal fungsi utama dari militer itu adalah untuk melindungi rakyat sebagai pelindung negara bukan ikut campur dalam urusan politik. Dengan begitu para militer sepertinya semakin tinggi hati bahwa peran mereka dalam pemerintahan Indonesialah yang paling diagungkan.

    BalasHapus
  74. saya untari sabdiana (2009330137)

    menurut saya fungsi ABRI dalam pemerintahan soeharto memang ganda. namun, menurut saya rakyat memang senang 'diperintah'. hal ini menurut saya menurun dari memori bangsa ini yang pernah dijajah hampir setengah dari masa hidupnya. mengakibatkan mind set para rakyat menjadi senang dijajah.
    sebenarnya, jika para ABRI itu melakukan tugasnya dengan benar dan tidak menjadi sombong akan kekuasaan yang dia dapat, rakyat akan lebih sejahtera dan terkontrol. sebetulnya saya menyetujui adanya dwi fungsi ABRI tersebut. namun jika dilihat bahwa mereka melakukan penyimpangan terhadap kekuasaan yang mereka miliki, tentu saja amat menentang adanya dwi fungsi tersebut.
    sudah terbukti bahwa indonesia ini mungkin tidak bisa berjalan dengan baik tanpa adanya "jendral" yang mengatur negara.

    terima kasih

    BalasHapus
  75. Lammie Ramadhia (200633093)

    menurut saya, memang pada masa Orde Baru pemerintah di dominasi oleh kekuatan militer, terlebih dengan adanya Dwi Fungsi ABRI.
    dimana abri mempunyai kemampuan untuk turut serta berperan dalam dunia politik dan bisa menjadi decision maker.
    hal ini sungguh tidak tepat menurut saya, karena tentu saja ABRI hadir dengan segala kemampuannya untuk mengatur strategi keamanan, yangtentu akan berbeda dengan strategi politik negara.
    seharusnya biarkan lah sipil yang terjun di dunia perpolitikan dan ABRI bekerja secara profesional di bidang strategi keamanan, saya rasa jika mereka bisa bekerja sama dengan baik sesuai bidangnya masing2, maka negara ini akan lebih baik, karena perpolitikan yang kokoh dan mantap akan di sokong oleh pertahanan keamanan yang baik pula. mudah2an kita menjadi negara yang kuat.

    terimakasih.

    BalasHapus
  76. mas, saya jessica chandra (2009330009)

    saya mau memberi opini mengenai pertemuan ke -6, perpolitikan memang selalu diwarnai konflik dan cukup banyak kekerasan...
    ehm,,, mungkin karena kekuasaan AD yang begitu besar sehingga banyak monopoli dan penyalahgunaan kekuasaan oleh angkatan darat. sehingga lama kelamaan, Soeharto sendiri tidak dapat mengontrol dan timbullah banyak kubu dan konflik internal....

    sifat yang otoriter juga membuat masyarakat Indonesia jadi takut dan tidak bebas. sistem pemerintahan yang tertulis demokrasi tetapi kenyataannya tidak begitu, tapi justru lebih kearah otoriter....


    itu saja yang dapat saya tulis dalam komentar ini, saya sadar komentar ini dan tulisan ini sangat tidak berbobot dan banyak kekurangan.... saya sangat mengharapkan penjelasan mas di kelas...

    terima kasih (arigato gozaimasu)^ ^ C U in the next comment about seven lesson after UTS...

    BalasHapus
  77. maaaf mas,,, saya salah tulis NPM, saya jessica chandra (2009330006) yang comment barusan.. terima kasih mas sebelumnya...

    BalasHapus
  78. menurut beberapa referensi yang saya baca. Militer di Indonesia sudah ada sejak zaman penjajahan dan di dirikian untuk meawan penjajah. Namun seiring berjalannya waktu peran militer semakin menyimpang dan mulai mengarah kepada politik yang kemudian muncul Dwifungsi ABRI. Mulai dari penguasaan perusahaan-perusahaan bekas Belanda yang telah 'dinasionalisasi' hingga mendapat hak istimewa DPR (pasca G30S PKI).
    Akan tetapi penyalahgunaan hak oleh militer terjadi, salah satu penyalahgunaanya ialah korupsi di beberapa sektor oleh korps perwira.
    Militer semakin menguasai pasar menyebabkan kurangnya dana negara, di samping itu juga terjadi ketidakefisienan penggunaan dana oleh militer.
    Selain itu jabatan/hak dari beberapa petinggi daerah disamaratakan dengan militer, sehingga menyebabkan kurangnya peran dari petinggi-petinggi daerah/kota untuk mengambil alih.
    Hak dwifungsi ABRI konstitusional, dan telah dibuat dalam UU No.2 tahun 1982 tentang ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Negara.
    Saya kurang setuju dengan Dwifungsi ABRI dan perlu dicabut haknya berdampak buruk juga mengenyampingkan tugas militer yang sebenarnya yaitu mempertahankan negara.

    Joshua Ferdika G (2009330222)

    BalasHapus
  79. septy sulistiyani penu 200930070

    saya rasa penetapan tentang dwifungsi ABRI berdampak sangat tidak baik terhadap berjalannya pemerintahan di indonesia..
    banyak para perwira tinggi yang ikut turun dalam dunia politik. ABRI yang seharusnya hanya menjadi suatu badan pertahanan negara malah di gunakan sebagai "batu loncatan" untuk terjun dalam politik. tentu saja doktrinan yang mereka dapatkan selama pendididkan militer akan mereka terapkan pada dunia politik. hal ini jelas akan sangat berkontradiksi bukan?

    menurut saya hal ini akan menyebabkan tidak berjalannya politik dengan semestinya karena seharusnya dunia politik di pimpim oleh mereka yang memang benar-benar mengerti tentang politik. agar aspirasi rakyat dapat tersalurkan sebagaimana dengan tujuan dasar dari demokrasi.

    BalasHapus
  80. Febe Kemala Rani (2009330126)

    Menurut saya, penggunaan Dwifungsi ABRI pada masa ORBA lebih banyak menimbulkan sisi negatif daripada positif. Dwifungsi membuat ABRI sewaktu-waktu dapat menggunakan kekerasan demi kepentingan politiknya. Tugas mereka menjadi tidak spesifik.

    Hal ini malah membahayakan penduduk sipil yang semestinya dilindungi oleh ABRI. Politik dan militer merupakan 2 dunia yang berbeda sehingga tidak boleh dicampuradukkan.

    BalasHapus
  81. Rosida Esther Marchelina Sitompul
    (2009310032)

    Saya kurang setuju adanya dwifungsi ABRI, karena mereka yang berasal dari kalangan militer dapat mengambil peran-peran strategis dalam kancah politik termasuk menduduki jabatan-jabatan penting yang bersentuhan secara langsung dengan pengambilan keputusan, padahal seprti kita semua tahu militer tugasnya di bidang HANKAM, bukan dibidang SosPol .

    Dwifungsi ABRI pun menyebabkan kurangnya lapangan pekerjaan bagi mereka yang benar-benar memfokuskan diri pada bidangnya (SosPol).

    Terima Kasih

    BalasHapus
  82. chandra wijaya
    (2009330034)

    Kalau saya malah merasa bahwa pemerintahan yang militeristik dimana pemerintah dibawah kekuasaan militer memiliki beberapa poin yang baik adanya,cotohnya dalam mengatur perilaku masyarakat yang terkadang terlewat batas dan membuat resah masyarakat lainnya. Tentunya masyarakat akan menuju ke suatu kondisi utopia dimana minimnya atau bahkan tidak adanya keresahan yang terjadi di masyarakat. Namun terjadinya penyalahgunaan jabatan yang terjadi di kaum militer tak bisa dipungkiri membuat kondisi menjadi sebaliknya dimana sumber keresahan adalah militer itu sendiri. Sekiranya apabila pemerintahan militeristik yang berjalan tanpa adanya penyimpangan tentu saja akan menjadi sebuah bentuk pemerintahan yang baik.

    BalasHapus
  83. jessica indah (2009330070)

    posisi militer di masa pemerintahan ini sangat didominasi oleh militer sampai akhirnya militer melahirkan dwifungsi ABRI yang mana militer menjaga nkri dan menguasai pemerintahan.
    sampai akhirnya masa penguasaan militer di pemerintahan memudar karena masyarakat melihat adanya pendominasian pemerintahan oleh militer.

    BalasHapus
  84. R. Nadia Aryani Karissa 2009330159

    Mas, saya sangat tertarik dengan "SUPERSEMAR" yang tidak lain merupakan cikal bakal terciptanya doktrin "Dwifungsi ABRI".
    Saya membaca buku "Dari Soekarno Sampai SBY : Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa" karangan Prof. DR. Tjipta Lesmana, M.A. Buku tersebut menyatakan bahwa Soekarno memberikan SUPERSEMAR yang berisi wewenang untuk mengamankan NKRI tersebut kepada Soeharto. Namun kemudian Soeharto malah menyalahgunakan wewenang tersebut. Soekarno mengatakan bahwa wewenang itu sebatas untuk mengamankan situasi di Indonesia bukan penyerahan kekuasaan sepenuhnya, tetapi Soeharto malah mengambil kebijakan tanpa meminta persetujuan Soekarno terlebih dahulu. Disinyalir bahwa ini adalah akal bulus Soeharto untuk merebut tahta yang sedang diduduki oleh Soekarno.
    Surat SUPERSEMAR memang tidak pernah ditemukan keberadaannya sampai sekarang, tetapi buku yang saya baca menimbulkan beberapa pertanyaan berkecamuk di pikiran saya. Yang ingin saya tanyakan adalah (1)Bagaimana sebenarnya hubungan antara Soekarno dan Soeharto? Seberapa dekat hubungan mereka sampai Soekarno memberikan wewenang besar seperti SUPERSEMAR kepada Soeharto? (2)Apakah tidak terlintas di pikiran Soekarno dan tim kepresidenannya bahwa Soeharto akan menyalahgunakannya?

    terima kasih.

    BalasHapus
  85. Arlin Gunawan 2009320010/J

    Adanya militerisme dalam dwifungsi ABRI telah menyebabkan masyarakat Indonesia menuntut dihapuskannya dwi fungsi ABRI.
    Tindakan kekerasan militerisme yang mereka lakukan dianggap sebagai alat pembenaran untuk menjaga kestabilan politik.
    Padahal tindakan kekerasan yang mereka lakukan telah memicu makin besarnya pertentangan dan menimbulkan kesan negatif dari rakyat sehingga kestabilan politik itu sendiri tidak dapat terwujud.

    Terima Kasih.

    BalasHapus
  86. Marisa Sarnilita 2009330143

    Menurut saya peran dwi fungsi kurang cocok dijalankan di negara kita.Memang peran TNI sangat dibutuhkan ,walaupun demikian bukan berarti TNI dapat mendominasi dan ikut campur dalam segala urusan birokrasi.Akan hal tersebut masyarakat merasa terancam karena ruang geraknya dibatasi.Peran TNI memang dibutuhkan baik dari segi politik maupun sosial.Dari segi sosial TNI dapat mendukung kegiatan-kegiatan sosial yang ada,sedangkan dari segi politik TNI dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat akan ikut serta membela negara,mencintai tanah air,dan lain sebagainya.Bukan dengan mencampuri segala urusan pemerintahan.

    BalasHapus
  87. Selamat malam mas..
    saya hanya ingin berkomentar, saat ini pun hasil - hasil dari "cetakan" dwifungsi ABRI pun masih mendominasi dalam perpolitikan di Indonesia.
    Lihat saja presiden kita sekarang yang merupakan produk dari ABRI juga.
    lalu saat pemilu 2009 kemaren saja, kalangan ABRI masih mendominasi.

    BalasHapus
  88. Maaf mas, saya lupa menuliskan nama dan npm.
    Kian 2009320052
    Terima kasih mas.

    BalasHapus
  89. neysa ardelia 2009330037
    mungkin ga mas kalo karena masa pemerintahannya soeharto Indonesia punya banyak hutang dan jatuh setelang beliau lengser karena latar belakang pendidikan soeharto?dia memimpin dengan strategi yg baik tp tidak didasarkan pada pendidikan yg memadai dan dibutuhkan.saya jg kurang setuju dengan dwifungsi ABRI mas.

    BalasHapus
  90. Calvin Kelvianto (2009320110)

    dari kuis yang bapak berikan untuk materi ini, saya ingin menanyakan tentang dampak dwifungsi ABRI.. apa saja dampak negatif dari dwifungsi ABRI ini? apakah ada dampak positifnya pak? menurut saya, dwifungsi ABRI ini tidak boleh dipertahankan ketika ABRI telah mulai menyimpang.. apalagi, sejak saat itu lebih banyak dampak negatif yang disebabkan oleh dwifungsi ABRI ketimbang dampak negatifnya.. saya setuju dengan tindak penolakan oleh masyarakat Indonesia pada saat itu

    BalasHapus
  91. Selamat malam mas, saya Radit (2009330024)

    Saya ingin mengemukakan pendapat saya bahwa dwifungsi ABRI itu sangat bermanfaat dalam sebuah pemerintahan dan bagi pemerintahan itu sendiri.
    Dengan adanya dwifungsi ABRI sangatlah memungkinkan untuk melakukan kontrol intensif dan menyeluruh sampai ke pelosok ke bagian-bagian terkecil pendelegasian kewenangan, karena ABRI sendiri diawasi oleh pemerintah dan juga kaki tangan pemerintah dalam mempertahankan dan menciptakan sebuah stabilitas semu, tapi tidak dapat dipungkiri walaupun semu namun tahan lama.
    Dan dalam domain sosial politik sendiri, tokoh militer kadang bisa memainkan peran yang lebih baik ketimbang tokoh sipil.
    Misalnya saja kita tengok negara-negara diktator yang dipimpin oleh orang yang meraih tampuk kekuasaan melalui kudeta, seperti Cuba, pemerintahannya amatlah stabil ketika dipimpin oleh Fidel Castro.
    Di Indonesia sendiri contohnya tentu saja adalah Soeharto sendiri sebagai tokoh militernya.

    terima kasih.
    salam.

    BalasHapus
  92. Adianus Novaryanto (2009330088)

    Menurut saya peran militer pada era Soeharto sangatlah mendominasi. Pada era ini terdapat banyak sekali tempat-tempat strategis yang hanya dikuasai oleh militer. pada era Soeharto kita mengenal dwifungsi ABRI, dimana selain dalam bidan pertahanan dan keamanan, militer juga menempati pos-pos sosial dan politik di indonesia.
    menurut saya, peran militer yang terlalu banyak ini sangatlah tidak baik dan tidak seimbang bagi kehidupan politik Indonesia. karena dominasi militer dalam pos-pos strategis seringkali menyebabkan terjadinya ketidak \adilan, sebagai contoh yang bukan militer kurang mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang lebih baik, karena pendidikan dipusatkan hanya kepada militer saja.
    selain itu, kesempatan rakyat sipil untuk berpartisipasi dalam kehidupan berpolitik juga jadi terbatasi sehingga kurang mendapatkan tempat. jadi, yang lebih baik adalah militer hanya berkecimpung di dunia pertahanan dankeamanan saja, apabila pada akhirnya harus turun ke dunia perpolitikan, maka sebaiknya kapasaitasnya dikurangi dan tidak lebih banyak dan mendominasi.
    terima kasih.

    BalasHapus
  93. Sore mas. .Memang dwifungsi ABRI ini banyak ikut dalam kancah politik kita sekarang ini. .Salah satu contoh konkretnya Presiden kita ini juga hasil cetakan ABRI. .Serta dalam kabinet kabinet kita juga banyak menyorot nama ABRI,selengkapnya para purnawirawan yang telah pensiun dan ikut mengamati politik di Indonesia ini. .
    Sekian dan terima kasih. .
    Kevin Tjiardy(2009320034)

    BalasHapus
  94. anggayasti (2009330224)

    menurut saya, peran militer yang mengalami dwifungsi dalam perpolitikan jika digunakan dengan pemanfaatan yang efektif tentunya akan berakibat pada ketertiban masyarakat Indonesia, terlebih indonesia mempunyai sifat pluralitas dan kemajemukan yang tinggi.
    namun akhirnya penyalahgunaan yang terjadi berdampak pada hilangnya kepercayaan rakyat pada pilar-pilar penegak stabilitas dan keamanan tersebut karna proses yang tidak sesuai dan merugikan.
    itu saja komentar dari saya. atasperhatiannya saya ucapkan terimakasih.

    BalasHapus
  95. mahardhika lysmawan (2009320048)

    menurut saya,peran TNI di butuhkan demi ketahanan negara dan melindungi ancaman dari luar,tetapi saya kurang setuju terhadap TNI yang ikut campur dalam urusan pemerintahan.terima kasih.

    BalasHapus
  96. Anissa Rezky Rachmayanti (2009320065)


    Selamat sore pak,
    Disini saya akan coba mengungkapkan pendapat pribadi saya mengenai topik "Peran Militer di Era Soeharto" yang merupakan bahan perkuliahan di Bab 6 .


    Menurut saya pada jaman pemerintahan pak soeharto memang tampak peran ABRI/ militer begitu besar selain itu presiden kita di era itu berasal dari angkatan militer . Memang sedikit terkesan ABRI atau angkatan militer seperti di anak emaskan. Namun tidak dipungkiri pada masa pemerintahan pak soeharto justru negara kita NKRI ini mengalami kemakmuran.

    Pemerintahan soeharto memang terkesan diktaktor campur tangan ABRI/angktan militer pun sangat kencang. Namun disitu lah tersirat nilai posituf dan negatif dari suatu tata cara kepemerintahan. Setiap pemerintahan pasti menuai pujian positif bahkan kritik/gunjingan negatif itu merupakan suatu hal yang normal.


    Terimakasih pak kristian.
    Maaf e-commen saya sedikit terlambat,semoga bapak masih mau menerimanya.

    BalasHapus
  97. nabil iskandar (2009320049)

    menurut saya, pada era soeharto militer dalam posisi yg mempunyai sgt kuat. Posisi mereka diangkat oleh soeharto. Menurut saya, ini merupakan taktik soeharto agar dia bisa melaksanakan kebijakan2 politiknya dengan lancar. Militer dijadikan kaki tangannya. Dan karena dia didukung oleh militer, maka yg bisa menjatuhkannya hanya militer. Maka dia menjalankan taktiknya

    BalasHapus
  98. menurut saya "renny ferdilla (2009320150)"

    perwira angkatan darat sejak tahun 1945 hingga masa orde baru selalu melibatkan dirinya dalam politik dan mengambil peran - peran yang strategis ...
    kemudian terjadi sejumlah mutasi dan pemberhentian sejumlah orang d angkatan darat yang di anggap pro Soekarno & PKI dan semenjak itulah angkatan darat semakin solid dan tidak ada lembaga sipil yang mengontrol kebijakan internal militer termasuk mengendalikan operasi intelijen yang diwarnai dengan berbagai friksi dikalangan internal militer ...

    BalasHapus
  99. komentar saya M.Fikri Maulana 2009320147
    pada masa pemerintahan Suharto yang manjadi diktator di negaranya sendiri pasti dengan adanya dwifungsi ABRI itu sendiri dimaksudkan adanya tujuan tersendiri yang di jalani, entah itu untuk TNI sendiri atau untuk kepentingan suharto sendiri. Kekuatan TNI sendiri sangatlah kuat, bisa dikatakan tidak ada tandingannya dalam negara Indonesia ini sendiri.

    BalasHapus
  100. selamat malam mas, saya sebastian n. bayu (2004320162)....


    saya akan langsung saja, selama ini kita selalu disibukkan dengan cerita dan sejarah tentang peran militer di era soeharto atau busuknya dwifungsi ABRI, dan lain sebagainya....

    kalau kita bertanya pada masyarakat sipil atau mahasiswa khususnya apakah mereka setuju dengan dwifungsi ABRI/peran militer pada era soeharto, sebagian besar dari mereka saya rasa akan menjawab tidak.....

    disini saya tidak akan memihak siapapun, tetapi kenapa kita tidak melihat hal tersebut melalui 2 perspektif, kenapa kita tidak pernah mendengar opini dari kalangan militer itu sendiri, apakah mereka setuju dengan hal-hal tersebut atau tidak........???

    BalasHapus
  101. Erick Radiktya (2007330111) kelas: I
    Malem Mas..
    Menurut saya dwifungsi ABRI memiliki peran penting dalam pepolitikan Indonesia. Terbukti selama 32 tahun pemerintahan Soeharto tidak ada gerakan-gerakan yg menurut saya menjurus separatis yang mengatasnamakan suku ataupun Agama sebagai alasan, seperti GAM (pada waktunya),FPI,dll, disamping itu maraknya teroris yg ada di Indonesia. Gerakan-gerakan ini yg menjadi pemecah belah rakyat dan memberi dampak negatif pada politik domestik di Indonesia. Ketika masih adanya Dwifungsi ABRI aksi-aksi seperti ini hampir tidak ada. Karena dari tingkatan paling bawah (Kades/Lurah) sampai paling atas(Presiden)dijabat dan diawasi oleh personel ABRI yg ikut menjaga kestabilan politik di Indonesia.

    BalasHapus
  102. I Gusti Agung Bagus
    2009330069

    menurut saya dampak dari dwifungsi abri memiliki dampak positif dan dampak negatif. kita lihat dari dampak negatifnya dahulu, abri merasa menjadi anak emas, selian itu abri juga menjadi sewenang-wenang mengintervensi aspek kehidupan masyarakat. selain itu karena banyak jabatan yang diduduki dari abri maka banyak yang tidak berjalan dengan baik jadi hanya sekedar menguntungkan pihak-pihak tertentu. namun kita lihat dari dampak positifnya sekarang, peranan dwifungsi abri juga ikut menjaga stabilitas sosial. terbukti tidak adanya tindakan-tindakan separatisme seperti sekarang ini.
    dampak lain karena dwifungsi abri berjalan selama 32 tahun maka doktrinn yang timbul dalam masyarakat adalah bahwa apabila pejabat yang berasal dari kaum militer sudah pasti bagus, padahal belum tentu benar.
    sekian pendapat saya mas, thx

    BalasHapus
  103. Virliane fitria melania 2009320117

    Menurut saya, peran militer pada era Soeharto yang terlibat dalam kancah politik ini terlalu mendominasi. Ini juga dikarenakan Soeharto sendiri yang memang berasal dari militer dan sistem pemerintahannya yang cenderung otoriter.
    Adanya dwifungsi ABRI pada era ini, saya tidak setuju karena perannya yang juga berfungsi sebagai kekuatan sosial politik, menjadi tidak konsisten dan tidak efektif akan peran utamanya yaitu sebagai badan pertahanan negara.
    Peran ABRI dalam pemerintah ini juga menghalangi berkembangnya kekuatan-kekuatan politik lain yang dapat menyainginya, karena ABRI dapat menentukan siapa yang dipilihnya sebagai pemimpin partai politik.
    Demikian pendapat saya pak, mohon maaf apabila ada kata-kata yang salah, harap koreksinya. Terima kasih.

    BalasHapus
  104. Devi Indri Ariani.(2009310015)

    menurut saya dengan adanya dwifungsi abri itu membuat orang sipil tdk dianggap keberadaannya.jadi orang militer seolah2 mengambil alih tugas orang sipil.
    dan itu berdampak tidak baik,karena membuat orang2 sipil lemah dan orang2 militer semakin kuat.dengan demikian ,pendapatan orang2 sipilpun akan menurun dengan adanya dwifungsi abri tersebut.

    sekian saja pa komentar dari saya.kurang dan lebihnya harap maklum.Terima kasih.

    BalasHapus
  105. Diah Putri Astuti 2009330133

    menurut saya, peran militer di politik tidak begitu penting, terutama adanya difungsi ABRI yang mendominasi pemerintahan.
    Seharusnya, wakil rakyatlah yang bergelut disitu, yang memiliki wawasan, kemampuan, dan pengalaman di bidang ini.
    Sedangkan militer seharusnya fokus dalam menciptakan kestabilan negara dalam bidang hankam

    BalasHapus
  106. Sarah Aisha 2007330159

    Dwifungsi ABRI telah memberikan militer 2 fungsi yakni fungsi pertahanan keamanan dan fungsi politik.dari kacamata sejarah militer tidak bisa dilepaskan dari politik Indonesia, karena sejak awal dibangunnya negara ini dan bahkan sampai saat ini militer dapat dikatakan sebagai "invisible government" di Indonesia.sejak awal dibangun Indonesia dalam konteks kontribusi militer yang tidak bisa dilupakan dalam memperjuangkan kemerdekaan dan sampai kini, dapat dilihat dari presiden kita, Bpk. SBY yang berlatar belakang militer, hal tersebut memperlihatkan pengaruh militer yang baik disadari maupun tidak, eksistensinya masih langgeng sampai sekarang.
    Yang ingin saya komentari adalah bagaimana dampak dari kebijakan Dwifungsi yang diberlakukan pada era ORBA.
    Dwifungsi telah melegitimasi supremasi militer atas sipil yang kemudian membawa hubungan yang tidak baik antara sipil dengan militer. kemudian setelah dwifungsi dihapuskan oleh Presiden RI alm.Gus Dur, kekuasaan politik diberikan ke pihak sipil.namun yang terjadi adalah ketika sipil harus berhapadan dengan kebijakan yang terkait pertahanan dan militer, mereka kebingungan karena tidak biasa membuat anggaran pembelian senjata misalnya.
    bagaimanapun kita harus mendukung agar militer dalam negeri kuat, karena seperti yang dapat kita lihat sekarang, bagaimana kekuatan militer kita dilecehkan oleh negara-negara lain, seperti malaysia dalam beberapa kasus pelanggaran terkait dengan wilayah, dan bahkan banyak dari kita yang pasti tidak tahu seberapa sering pesawat tempur AS 'mampir' ke wilayah teritorial RI.
    intinya adalah hubungan sipil dan militer yang buruk yang merupakan akibat dari pengimplementasian kebijakan Dwifungsi pada era ORBA, harus diperbaiki. harus ada komunikasi yang baik antara kedua belah pihak sehingga dapat dibentuk suatu kerjasama, jika kerjasama dapat dilaksanakan dengan baik, maka baik militer maupun sipil dapat berfungsi dengan baik sesuai dengan perannya masing-masing. masing-masing pihak sama-sama saling membutuhkan, maka kenapa tidak bersatu bersama-sama membangun negara ini?

    BalasHapus
  107. sore pa, saya anna maria (2009320183)

    menurut saya dengan adanya dwifungsi ABRI membuat militer bisa memegang posisi di dalam pemerintahan sehingga berdampak buruk untuk kaum sipil. dimana dwifungsi merupakan suatu doktrin di lingkungan militer Indonesia yang menyebutkan bahwa TNI mempunyai dua tugas, yaitu menjaga keamanan dan ketertiban negara dan memegang kekuasaan dan mengatur negara. dan seperti pada artikel yang pernah saya baca salah satu akibat buruknya yaitu patahnya inisiatif di bawah karena orang merasa tidak ada gunanya lagi mencari alternatif karena semuanya akan dikalahkan alternatif dari militer. Orang sipil seolah-olah tidak lagi mempunyai hak untuk menentukan sesuatu tanpa izin ABRI.

    BalasHapus
  108. Saya Aloysius Domenico Kevin Prasetyo (2009330161)

    Hapuskan saja Dwifungsi Abri,, dsb..
    Sperti kodim".. Pemborosan,, karena sudah ada Polisi.. Jadi kineerja mereka tidak efektif,, lain halnya bila mereka ditempatkan di tempat" terpencil, perbatasan negara dan daerah rawan konflik.. Sehingga mereka bisa berkonsentrasi untuk pertahanan negara..

    BalasHapus
  109. mas saya punya pendapat....
    menurut saya pada masa soeharto peran militer di indonesia merupakan peran yang paling kuat untuk menjaga keamanan negara indonesia dari negara mana pun karena negara indonesia pernah dikenal sebagai julukan macan asia dan di takuti oleh beberapa negara di asia karena kepemimpinan soeharto sebagai presiden yang sangat tegas dan mengutamakan keamanan dalam negri dan pembangunan dalam negeri untuk membangun perekonomian negara indonesia agar negara indonesia berkembang dengan cepat.

    soeharto memilih peran militer sebagai bagian dari pemerintahan sebab soeharto ingin menstabilkan keamanan indonesia agar tidak terjadi kekacauaan dan agar terciptanya keamana2 di setiap penjuru negara indonesia agar dia dapat membangun kembali perekonomian negara indonesia tanpa ada pemberontakan atau kekacauan yang dilakukan oleh masyarakat.....

    itu lah pendapat saya tentang peran militer pada masa era pemerintahan soeharto....

    andy awaludin hanif 20009310010

    BalasHapus
  110. halo mas..
    Saya Grace (2009330016)
    saya mau melanjutkan mengomentari di postingan yang belum saya komentari ya mas..

    Manurut saya peran militer di masa itu, utamanya di masa Soekarno lalu berlanjut ke masa Soeharto memang cukup kuat. Apabila pemerintah tidak memberi militer peran yang cukup, disinyalir militer akan berusaha mengkudeta pemerintahan yang ada, karena militer memiliki persenjataan yang memadai sehingga hal itu sangat memungkinkan.

    Saya secara pribadi, setuju dengan adanya sistem dwi fungsi abri. Mengingat pada masa itu masyarakat yang notabene masih trauma dengan serangan dari pihak asing, membutuhkan adanya perlindungan dari pihak-pihak tertentu yang dalam hal ini adlah abri yang mampu melindungi rakyat indonesia.

    Namun sayangnya, sistem dwi fungsi abri ini dimanfaatkan dengan semena-mena oleh oknum-oknum tertentu yang berusaha mengeruk hak rakyat demi kepuasan pribadinya. Hal ini jelas merupakan tindakan yang menyalahgunakan kekuasaan, yang akibatnya membawa kekuasaan abri menjadi otoriter dan semena-mena terhadap rakyat dan warga sipil lainnya.

    Hal ini seharusnya ditindak secara tegas oleh pemerintahan yang ada. Agar dwi fungsi abri berjalan sesuai dengan tujuan yang semula telah ditetapkan pada masa itu.

    BalasHapus
  111. sore pak....
    saya angga wibowo p (2009310002)

    saya mao tanya...kenapa saat era soeharto peran militer bagi politik sangat berpengaruh..?dan kenapa harus politik?

    BalasHapus
  112. saya fanny chintya chandra (2009320043)

    dwifungsi abri sebaiknya dihapuskan..
    miLiter tidak dapat berperan sepenuhnya daLam poLitik apaLagi sampai menduduki jabatan-jabatan penting yang bersentuhan secara langsung daLam pengambiLan keputusan..

    BalasHapus
  113. reynard tjahja wiguna (2009320111)

    pad masa pemerintahan Soeharto, terjadi beberapa pelanggaran yang telah dilakukan oleh militer.
    pelanggaran yang pertama adalah adanya dwifungsi abri.
    seharusnya hal tersebut tidak perlu terjadi karena hal tersebut dapat menimbulkan perpecahan
    selain itu kekuatan militer yang kuat dapat menekan para rakyat sehingga para rakyat tidak dapat menyampaikan aspirasinya masing- masing.

    negara kita adalah negara demokrasi, sudah seharusnya hal- hal seperti dwifungsi abri dan kekuasaan militer duhapuskan.
    militer harus berjalan di jalurnya yang benar yaitu sebagai pengaman negara sedangkan proses pemerintahan sebaiknya diserahkan kepada para politisi yang mengerti bidannya masing- masing.

    BalasHapus
  114. limia trifena (2009330192)
    menurut saya,
    masa pemerintahan soeharto merupakan masa kejayaan dari militer khususnya AD.dengan peristiwa G20 september terlihat bagaimana upaya militer yang kontra-soekarno untuk mrenyingkirkan berbagai kekuatan yang pro-soekarno, dan saya kira sangat mungkin AD orba saat itu menerima dukungan penuh dari CIA dimana dengan menjatuhkan kekuatan-kekuatan yang menyokong soekarno, dapat menyingkirkan kekuatan2 komunis di indonesia.
    namun dengan naiknya soeharto membuat dampak burk dalam tubuh AD sendiri, banyak sekali terjadi KKN dan tidak ditindak lanjuti oleh soeharto karena memang soeharto butuh orang2 untuk mendukung pemerintahannya sehingga menurut saya besarnya tingkat korupsi di indonesia tdak terlepas dari peranan soeharto dan keanak emasan AD dalam menumbuhkan bibit2nya.
    trimakasih.

    BalasHapus
  115. siang pak,saya dewi(2009310005),menurut saya pak memang pada masa rejim suharto berlangsung peran dari militer jelas sangat mendominasi kancah perpolitikan indonesia.Mereka secara aktif dapat ikt dalam pengambilan keputusan politik.Padahal menurut saya mereka yang sudah terbiasa dengan medan tempur kurang berkompeten dan berkapabilitas dalam mengurusi hal ini.Memang semua hal bisa terjadi,namun jika dipaksakan pasti akn banyak timbul kontrovensi yang tidak menyenangkan tentunya.namun sepertinya suharto saat itu tidak peduli dgn macam hal yg terjadi.Mungkin militer yang digunakan suharto sbg pilar menadikan dia sebagai pemimpin yang sangat otoritarian.menurut sy militer dilibatkan dalm hal berbau pol. seperti ini sebagai tanda terima kasih saja karena dari dulu dia sudah dibesarkan di lingkungan militer.Seperti pepatah janganlah kacang sampai lupa pada kulitnya.Kemungkinan besar hal itulh yg mmbuat militer dpt berpartisipasi dalm pemerintahan pada masa itu.

    BalasHapus
  116. haii mas...
    saya lagi Elliza Prita Devi (2009330008)

    saya sangat menyukai topik perkuliahan yg kali ini.
    menurut saya, dwifungsi ABRI sangatlah tidak efektif karena ABRI di masa orde baru menyabet semua kerjaan yg ada. mereka mengambil tugas POLRI dan juga mendominasi pemerintahan saat itu sehingga seperti yg dikatakan oleh teman saya diatas bahwa ABRI seperti anak emas. padahal seharusnya ABRI memiliki tugas sendiri dan tidak menyabet kerjaan lain. dan dinegara yang demokrasi ini tidak seharusnya ada kata "anak emas" untuk pemerintahan. setiap individu memiliki hak yang sama untuk menjabat diPemerintahan Indonesia.

    terimakasih

    BalasHapus
  117. Halo mas, saya Kevin Tiganna Tarigan 2009330223, bagi saya dominasi militer adalah suatu bentuk penindasan terhadap supremasi sipil. Supremasi sipil adalah suatu keadaan dimana rakyat adalah pemegang kunci utama berjalannya pemerintahan. Sebuah pemerintahan yang dikendalikan oleh militer adalah suatu pemerintahan yang otoriter dan anarkis. Negara yang pengaruh militernya sangat kuat akan cenderung mengejar kekuatan, dan akan mengejar kekuatan itu by all means necessary. Dalam perang dunia ke II, para pejabat militer lebih berpengaruh daripada pejabat di dunia politik itu sendiri. Hal ini karena dianggap militer adalah garis depan suatu negara, negara yang militernya lemah adalah negara yang lemah. Dalam negara yang militernya kuat, seperti Korea Utara, cenderung hanya mementingkan kekuatan, dan rakyatnya ditelantarkan, banyak sekali pelanggaran ham, hak-hak politis warga sipil dibungkam. Supremasi militer sangat bertentangan dengan semangat perjuangan para founding fathers indonesia, berlawanan dengan nilaai dasar pancasila dan nilai-nilai yang diusung oleh UUD 45. Demokrasi adalah satu-satunya , dan kekuatan sipil adalah mutlak. Harus ada pembatasn yang jelas terhadap kewenangan militer.

    Militer adalah suatu keharusan untuk dimiliki oleh setiap negara, karena milit,er menjaga ketertiban umum, melindungi dari ancaman baik luar maupun dalam. Militer tidak seharusnya mencampuri urusan politik , dan tetap menjalankan peran dan fungsinya sebagai pelindung kedaulatan negara.

    BalasHapus